Karakteristik Fisik, Kimia, Dan Biologi Tempat Perindukan Potensial Larva Anopheles Sp. Dan Indeks Habitat Di Desa Sukamaju Kecamatan Punduh Pidada Kabupaten Pesawaran

Akmal Taher* -  Universitas Malahayati, Indonesia
Tusy Triwahyuni -  Universitas Malahayati, Indonesia
Ismalia Husna -  Universitas Malahayati, Indonesia
Devita Febriani -  Universitas Malahayati, Indonesia

ABSTRACT: PHYSICAL, CHEMICAL, AND BIOLOGICAL CHARACTERISTICS OF POTENTIAL FARMING PLACE OF LARVA Anopheles sp. AND HABITAT INDEX IN SUKAMAJU VILLAGE DISTRICT PUNDUH PIDADA PESAWARAN DISTRICT

 

Background:  Malaria is an infectious disease transmitted through mosquitoes and has become a health problem both in the world and Indonesia especially in Lampung. The population of the malaria vector is strongly influenced by the location of the breeding place.

Purpose: Knowing the Physical, Chemical, and Biological Characteristics of Potential Breeding Places for Anopheles Sp. and Habitat Index in Sukamaju Village, Punduh District, Pesawaran Regency, Lampung Province, 2020.

Methods: This was a descriptive study with a cross-sectional study research design. The physical characteristics have done by measuring temperature and water depth, the chemical characteristics by measuring pH and water salinity, and the biological characteristics by looking at organisms found at the sampling site. As well as calculating the habitat index.

Results: The physical characteristics of the brooding sites have an average water temperature of 31.33 ° C and an average water depth of 25.840 cm. Chemical characteristics of brooding sites mean 2.4280 ‰ of water salinity, and most of the acidity (pH) of water is acidic. The biological characteristics of breeding sites are mostly water and plant predators. Habitat index obtained a value of 1%.

Conclusion: That these places have the potential to transmit malaria.

 

Keywords: Anopheles sp., breeding place, malaria

 

 

INTISARI: KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA, DAN BIOLOGI TEMPAT PERINDUKAN POTENSIAL LARVA Anopheles sp. DAN INDEKS HABITAT DI DESA SUKAMAJU  KECAMATAN PUNDUH PIDADA KABUPATEN PESAWARAN

 

Latar Belakang : Malaria merupakan penyakit infeksi yang ditularkan melalui nyamuk dan telah menjadi masalah kesehatan baik di dunia maupun di Indonesia khususnya di daerah Lampung. Populasi vektor malaria sangat dipengaruhi oleh lokasi tempat perindukannya. Tujuan : Mengetahui Karakteristik Fisik, Kimia, dan Biologi Tempat Perindukan Potensial Nyamuk Anopheles Sp. dan Indeks Habitat Di Desa Sukamaju Kecamatan Punduh Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung Tahun 2020. Metode : Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Karakteristik fisik dilakukan dengan mekukur suhu dan kedalaman air, karakteristik kimia dengan mengukur pH dan salinitas air, dan karakteristik biologi dengan melihat organisme yang ditemukan di tempat pengambilan sampel. Serta melakukan penghitungan indeks habitat. Hasil : Karakteristik fisik pada tempat perindukan rata-rata suhu air 31,33°C, dan rata-rata kedalaman air 25,840 cm. Karakteristik Kimia pada tempat perindukan rata-rata salinitas air 2,4280‰, dan sebagian besar derajat keasaman (pH) air adalah asam. Karakteristik Biologi pada tempat perindukan sebagian besar terdapat predator air dan tumbuhan. Indeks habitat didapatkan nilai 1%. Kesimpulan : Bahwa tempat-tempat tersebut berpotensi untuk penularan penyakit malaria.

 Kata Kunci : Anopheles sp., malaria, tempat perindukan

  1. Andananta dkk. (2008). Studi Ekologi Perindukan Nyamuk Vektor Malaria Di Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan. Jurnal Biologi FMIPA Universitas Lampung: Lampung.
  2. Ariati dkk. (2008). Bioekologi Vektor Malaria Nyamuk Anopheles sundaicus di Kecamatan Nongsa Kota Batam Tahun 2008. Jurnal Ekologi Kesehatan. 10(1): 29-37.
  3. Arsin, A. (2012). Malaria Di Indonesia Tinjauan Aspek Epidemiologi. Makassar: Masagena Press.
  4. Babba, I. (2007). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kejadian Malaria. [Skripsi] Semarang: Program Pasca Sarjana Universitas Diponegoro.
  5. Dale dkk. (2005). Malaria in Indonesia: A summary Of Recent Research Into Its Environmental Relationships. Southeast Asian J Trop Med Public Health. 36(1): 1-13.
  6. Departemen Kesehatan RI. (1999). Modul Epidemiologi Malaria. Ditjen. PPM & PL Departemen Kesehatan RI: Jakarta.
  7. Depkes RI. (2008). Pedoman penatalaksanaan kasus malaria di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehat Lingkungan.
  8. Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran. (2015). Profil Dinkes kabupaten Pesawaran tahun 2014. Pesawaran.
  9. Ernawati dkk. (2012). Tambak terlantar sebagai tempat perindukan nyamuk di daerah endemis malaria (penyebab dan penanganannya). Jurnal Ilmu Lingkungan. 10(2): 54-63.
  10. Hadi dkk. (2006). Hama Permukiman Indonesia; Pengenalan, Biologi dan Pengendalian. Bogor: Unit Kajian Pengendalian Hama Permukiman (UKPHP) Fakultas Kedokteran Hewan: IPB.
  11. Harijanto, P., N. (2009). Malaria: Epidemiologi, Patogenesis, Manifestasi Klinis dan Penanganan. EGC: Jakarta.
  12. Harmendo. (2008). Faktor Risiko Kejadian Malaria di Wilayah kerja Puskesmas Kenanga Kecamatan Sungailiat Kabupaten Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. [Tesis]. Semarang: Program Pascasarjana Universitas Diponegoro.
  13. Kemenkes RI. (2018). Pedoman Survei Vektor Malaria. Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor Dan Zoonotik.
  14. Leaua, D., J. (2013). Sebaran Kepadatan Larva Dan Nyamuk Anopheles Spp. Penyebab Penyakit Malaria Di Desa Kumo Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara Provinsi Maluku Utara. [Tesis]. Makassar: Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin Makassar.
  15. Lestari, E., E. (2017). Karakteristik tambak terlantar sebagai tempatperindukan larva anopheles sp. di wilayah kerja puskesmas hanura kecamatan teluk pandan kabupaten pesawaran. [Skripsi]. Bandar Lampung: Universitas lampung.
  16. Mahdalena dkk. (2015). Ekologi Habitat Perkembangbiakan Anopheles Spp. Di Desa Simpang Empat, Kecamatan Lengkiti, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Indonesian Journal of Health Ecology, 14 (4), 342- 349.
  17. Marpaung. (2006). Penyusunan Model Spasial untuk Memprediksi Penyebaran malariaKabupaten Sukabumi, Jawa Barat. [Tesis]. Bogor: Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA-IPB.
  18. Munif, M., A. (2009). Hubungan antara kepadatan vektor Anopheles aconitus dan insidenmalaria di daerah endemik di Kabupaten Sukabumi Jawa Barat. Jurnal Ekologi Kesehatan. 8 (1): 901- 914.
  19. Palupi, N., W. (2010). Hubungan Keberadaan Tempat Perindukan Nyamuk Dengan Kejadian Malaria Di Puskesmas Hanura Kabupaten Pesawaran Tahun 2010. [Tesis]. Jakarta: Program Studi Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
  20. Pebrianto, A., M. (2008). Ekologi Perindukan nyamuk vektor malaria di pantai puri gading Kelurahan Sukamaju Kecamatan Teluk Betung Barat Bandar Lampung. [Skripsi]. Bandar Lampung: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung.
  21. Prabowo. (2014). Malaria, Mencegah dan Mengatasinya. Jakarta: Puspa Swara.
  22. Rusfadir. (2011). Analisis Faktor Risiko Kejadian Malaria di Pulau Soop Distrik Sorong Kepulauan Kota Sorong Tahun 2011. [Tesis]. Makassar: Program Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin.
  23. Santjaka. (2013). Malaria pendekatan model kualitas. Yogyakarta: Nusa Medika.
  24. Septiani, L. (2012). Studi Ekologi Tempat Perindukan Vektor Malaria Di Desa SukamajuKecamatan Punduh Pidada Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung [Skripsi]. Bandar Lampung: FMIPA Universitas Lampung.
  25. Soedarto. (2011). Malaria: Referensi mutakhir Epidemiologi Global – Plasmodium Anopheles Penatalaksanaan Penderita. Jakarta: Sagung Seto.
  26. Sopi, I. (2014). Bionomik Anopheles sp. di Desa Konda Maloba, Kecamatan Katikutana Selatan, Kabupaten Sumba Ten gah, Provinsi NTT. Jurnal Ekologi Kesehatan; 13(3): 240–54.
  27. Subki, S. (2000). Faktor-faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Malaria di Puskesmas Membalong, Puskesmas Gantung, dan Puskesmas Manggar Kabupaten Belitung. [Skripsi]. Jakarta: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
  28. Sucipto, C., D. (2011). Vektor Penyakit Tropis. Yogmyakarta: Gosyen Publishing.
  29. Suparman, E. (2005). Tinjauan Kepustakaan: Malaria Pada Kehamilan. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran.
  30. Sutanto, I., Ismid, I. S., Sjarifuddin, P. K., Sungkar, S. (2011). Parasitologi kedokteran. Jakarta: FK UI.
  31. Suwito dkk. (2010). Hubungan iklim, kepadatan nyamuk Anopheles sp dan kejadian malaria. J. Entomol. Indonesia. 7(1): 42-53.
  32. White dkk. (2011). Modelling The Impact of Vektor Control Interventions on Anopheles gambiae Population Dynamics. Parasit Vectors. 4: 153.
  33. Widoyono. (2011). Penyakit tropis epidemiologi, penularan, pencegahan dan pemberantasannya, sekarang. Jakarta: Erlangga.
  34. WHO. (2017). World Malaria Report 2017. Luxembourg: WHO.
  35. Yudhastuti, R. (2008). Gambaran faktor lingkungan daerah berbatasan (kabupaten tulungagung dengan kabupaten trenggalek) Surabaya. [Skripsi]. Surabaya: Universitas Airlangga.