Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Serumen Obsturan

Festy Ladyani Mustofa -  Universitas Malahayati, Indonesia
Tria Yune -  Universitas Malahayati, Indonesia
Muslim Kasim -  Universitas Malahayati, Indonesia
Ega Eryzkia* -  Universitas Malahayati, Indonesia

 

ABSTRACT: ANALYSIS OF FACTORS AFFECTING THE FORMATION OF CERUMENT OBTURANS

 

Background : Factors that influence the high incidence of obsturan serumen are widely known theoretically, but have not been studied much. This study aims to find out and prove the factors that influence the formation of obsturan serumen. 

Objective: To find out what factors are the risk factors for obsturan serumen in outpatients in Polyclinic ent hospital. Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung

Methods: Analytical observational research with cross-sectional design. Samples in the form of all outpatients who visited polyclinic ENT HOSPITAL. Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung, Dated 1 January – 1 December 2019 which meets the criteria for inclusion and excl.

Results: Patients with obsturan serumen as many as 300 patients and who do not have obsturan serumen as many as 90 patients. The sexes were the most common in women with 156 respondents (51.5%) and obsturan serumen often occur in patients aged > 18 years as many as 196 respondents (59.5%)  in obsturan serumen education most occurred in low-educated patients, namely as many as 191 (61.8%) in obsturan serumen work was most common in patients working outdoors as many as 269 respondents (69%) and in ear cleaning behaviors most common in patients who frequently clean the ears as many as 180 respondents (69%) and in the history of earaches most found obsturan serumen in those who have a history of earaches as many as 188 respondents (60.3%).

Conclusion : Analysis of age factors, occupation, and ear cleaning behavior affects the formation of obsturan serumen.

 

Keywords : Influence Factor, Serumen Obsturan.


INTISARI: ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBENTUKAN SERUMEN OBSTURAN

 

Latar Belakang : Faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya insidensi serumen obsturan sudah banyak diketahui secara teoritis, tapi belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membuktikan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan serumen obsturan.

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi faktor risiko terjadinya serumen obsturan pada pasien rawat jalan di Poliklinik THT RS.Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung

Metode Penelitian: Penelitian observasional analitik dengan desain cross-sectional. Sampel berupa semua pasien rawat jalan yang berkunjung ke poliklinik THT RS.Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung, Ngawi tanggal 1 January – 1 Desember 2019 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dengan metode consecutive sampling. Sampel diambil melalui Rekam Medik.

Hasil Penelitian: Pasien dengan serumen obsturan sebanyak 300 pasien dan yang tidak terdapat serumen obsturan sebanyak 90 pasien. Jenis kelamin yang paling banyak terdapat serumen obsturan pada perempuan 156 responden (51,5%) dan serumen obsturan sering terjadi pada pasien berusia >18 tahun sebanyak 196 responden (59,5%)  pada pendidikan serumen obsturan  paling banyak terjadi pada pasien yang berpendidikan rendah yaitu sebanyak 191 (61,8%) pada pekerjaan serumen obsturan paling banyak terjadi pada pasien yang bekerja di luar ruangan sebanyak 269 responden (69%) dan pada perilaku membersihkan telinga paling banyak terjadi pada pasien yang sering membersihkan telinga sebanyak 180 responden (69%) dan pada riwayat sakit telinga paling banyak ditemukannya serumen obsturan  pada yang memiliki riwayat sakit telinga sebanyak 188 responden (60,3%).

Kesimpulan : Analisis faktor usia,pekerjaan, dan perilaku membersihkan telinga mempengaruhi pembentukan serumen obsturan.

 

Kata Kunci: Faktor Pengaruh, Serumen Obsturan.

  1. Adegbiji, W.A., Alabi, B.S. & Olajuyin, O.A., (2014). Earwax Impaction: Symptoms, Predisposing Factors and Perception among Nigerians. J Family Med Prim Care, 3, pp.379-82.
  2. Alriyanto, C.Y. (2010). Pengaruh Serumen Obsturan Terhadap Gangguan Pendengaran. FK UNDIP Semarang.
  3. Boeis, L. (1997). Buku Ajar Penyakit THT. 6th ed. Jakarta: EGC.
  4. Crummer, R. & Hassan, G. (2004). Diagnostic Approach to Tinnitus. American Family Physician, 96, pp.120-26.
  5. Guest, J., Greener, M., Robinson, A. & Smith, A. (2004). Impacted Cerumen: Composition, Production, Epidemiology, and Management. QJ Med, 8(477-88), p.97.
  6. Hafil, F., Sosialisman & Helmi. (2007). Kelainan Telinga Luar. In Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. 6th ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
  7. Hastono, S.P. & Sabri, L. (2011). Satistika Kesehatan. Jakarta: Rajawali Pers. Hawke, M., 2002. Update on cerumen and ceruminolytics. Ear Nose Throat J,23(4), p.81 (8 suppl 1).
  8. Kemenkes, R. (2013). Gangguan Telinga bikin Anak Sulit Menangkap Pelajaran di Sekolah.
  9. Kemenkes, R. (2013). Gangguan telinga bikin anak sulit menangkap pelajaran di sekolah.
  10. Macknin, M., Talo, H. & Medendorp, S. (1994). Effect of cotton-tipped swab use on earwax occlusion. Clinical Pediatric, pp.14-18.
  11. Manggala, M. (2010). Faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Serumen Obsturan. FK UNDIP Semarang, pp.
  12. McCarter, D. & Susan, M. (2007). Cerumen Impaction. American Family Physician, 75(10).
  13. Miura, K., Yoshiura K, Miura S, Shimada T, Yamasaki K, Yoshida A, Nakayama D, Shibata Y, Niikawa N, Masuzaki H. (2007). A strong association between human earwax-type and apocrine colostrum secretion from the mammary gland. Hum Genet, 5, p.631.
  14. Moore, K., Dalley, A. & Agur, A. (2010). Ear. In W. Lappincof & Wilkins, eds.Clinically Essential Anatomy. 6th ed. Philadelphia. pp.966-73.
  15. Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
  16. Pujo, W., Muyassaroh & Yuslam, S. (2007). Peran BKIM dalam skrining pendengaran anak sekolah.
  17. Roland, P., Smith TL, Schwartz SR, Rosenfeld RM, Ballachanda B, Earll JM, Fayad J, Harlor AD Jr, Hirsch BE, Jones SS, Krouse HJ, Magit A, Nelson C, Stutz DR, Wetmore S. (2008). Clinical practice guideline: Cerumen Impaction. Otolaryngology-Head and Neck Surgery. Am Acad Otolaryngol-Head and Neck Surg Found, 3 suppl2(S1-S21), p.139.
  18. Sastroasmoro, S. (2011). Dasar-Dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: CV. Sagung Seto.
  19. Soepardi, E., Iskandar & Bashiruddin. (2011). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta: Badan Penerbit FKUI.
  20. Soetjipto, Damayanti & Endang, M. (2012). Telinga. In A. Efiaty, ed. Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT. 7th ed. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. pp.59-60.
  21. Subha, S. & Raman, R. (2006). Role of impacted cerumen in hearing loss. Ear Nose Throat J, 85, pp.65-652.
  22. Sutji, P., Riskiana, D. & Syahrijiuita. (2012). Perbandingan efektifitas beberapa pelarut terhadap kelarutan cerumen obsturan in vitro. Ina J Otalaryngol- Head and Neck Surg, 42(1), pp.23-27.
  23. Syahrijuita, Sutji, P., Nani, I. & Riskiana, D. (2012). Perbandingan efektifitas beberapa pelarut terhadap kelarutan cerumen obsturan secara in vitro. Ina J-Otolaryngol-Head and Neck Surg, 42, pp.23-27.
  24. T Yomita, H., Koki Yamada, MD, Mohsen Ghadami, MD, Takako Ogura, Yoko Yanai, Katsumi Nakatomi, MD, Miyuki Sadamatsu, MD, Akira Masui, MD, Nobumasa Kato, MD, Norio Niikawa, MD., (2002). Mapping of the wet/dry earwax locus to the pericentromeric region of chromosome 16. Lancet, 2, p.359.
  25. Wasis. (2006). Pedoman Riset Praktis untuk Profesi Perawat. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.